Wednesday, July 23, 2014

Terlambat karena koneksi Internet lambat

Ceritanya saya sedang di Jakarta mengurus aplikasi VISA. Pukul 8.45 saya sdh berurusan dengan petugas di counter. Ternyata ada dokumen yang membutuhkan tanda tangan ayah saya. Tentunya di era teknologi informasi sekarang ini, maka saya langsung menelpon ayah saya dan minta untuk menandatangani dokumen lalu kemudian dipindai (scan) lalu dikirim via e-mail ke saya.

Singkat cerita, dalam waktu kurang dari 20 menit e-mail telah dikirimkan. Hmm.. masih ada waktu untuk bisa menyelesaikan urusan ini dengan cepat. Tapiiiii.. oo.. oow.. saya menerima dan memrosesnya (yg mana memrosesnya juga butuh koneksi Internet) lambat oleh karena koneksi Internet yang saya gunakan lambat meski sinyalnya 3G. Ganti ke free wifi yg tersedia di gedung, semoga lebih cepat, tapi.. wah.. malah lebih lambat. Doh..!!  (mulai garuk-garuk kepala)

Akhirnya urusan pun selesai setelah tertunda sekitar hampir 1 jam. Tapi dalam waktu sejam itu, antrian semakin banyak pula sehingga giliran saya dilayani kembali tentu mengalami perlambatan lagi. Karena penundaan tersebut maka terpaksa saya pun ketinggalan travel untuk balik Bandung pukul 10.45. Seharusnya urusan bisa selesai lebih awal dan bisa segera balik Bandung dan melanjutkan aktivitas pekerjaan saya. Dari cerita di atas, faktor apa yang menyebabkan saya tidak bisa selesai lebih awal sehingga mensangkilkan waktu? Tentunya kecepatan Internet. 

Mungkin terkesan sepele, tapi sesungguhnya banyak sekali kegiatan bisnis/urusan penting yang mengandalkan kehandalan dan kecepatan Internet. Jadi ingat pertanyaan seorang pejabat tinggi di Kementerian Komunikasi dan Informatika yaitu "kalau Internetnya kenceng trus mau ngapain?" *tepok jidat* 

Friday, July 18, 2014

Nikmatnya mengurus segala sesuatu dengan dilandasi kejujuran

Jika tiba masa dimana ada suatu persoalan yang harus diurus/diselesaikan tapi kita tidak percaya diri menampilkan diri kita apa adanya, maka pasti kita menjalankan skenario "berpura-pura".

Contohnya, ada saudara/kerabat yang harus mendapat penanganan di rumah sakit dan biayanya tidak kecil, maka seringkali anggota keluarga atau kerabat yg pembuat keputusan memberikan alasan ke rumah sakit untuk berpikir-pikir dulu, atau beralasan masih menunggu persetujuan dari anggota keluarga lainnya. Masalahnya, alasan diberikan dengan kesan seolah bukan biaya yg menjadi pertimbangan, tapi benar-benar persetujuan soal mau tidaknya, rela tidaknya, mendapat tindakan. Akhirnya penundaan pun terjadi, padahal kondisi pasien bisa jadi bertambah buruk, dan upaya penyelamatan menjadi semakin menipis.

Demikian juga hal ini bisa diterapkan di urusan lain, misalnya urusan pengajuan permohonan ke bank. Biasanya kalau mengajukan permohonan ke bank, kita tidak percaya diri jika nilai tabungan kita tidak besar. Akhirnya ketika diminta pengisian data oleh pihak bank, kita lalu memberikan data ygfiktif. Padahal ada baiknya kita "berkonsultasi" dulu dengan pihak bank (biasanya customer service ataupun bagian khusus yg menangani pengajuan) tentang apa yang kita inginkan, kondisi riil kita saat ini, dan bagaimana keinginan tersebut diupayakan. Seringkali pihak bank malah membantu kita supaya pengisian data bisa "diakali" secara bersama-sama. Terlepas dari masalah kejujuran, seringkali urusan bank itu adalah persoalan berurusan dengan sistem, dan sistem melakukan penilaian berdasarkan input yang diterima. Jadi jika inputnya "diakali" supaya "bagus/baik" maka ada harapan besar outputnya pun sesuai harapan. Tentunya usulan yang saya tuliskan di atas ini, tidak bisa dirampatkan (disama-ratakan) ke semua hal ya, termasuk segala jenis urusan bank, tapi setidaknya bisa dijadikan acuan awal saat berupaya.

Thursday, May 09, 2013

Code Smell: Bad Smell

Dalam pemrograman, dikatakan Bad Smell jika secara heuristik dicurigai ada masalah dengan suatu kode meski kode tsb belum terbukti menimbulkan masalah. Memanfaatkan CodeDeodorant bisa menghilangkan "smell" tsb, namun tidak menghilangkan penyebabnya. 
Menulis kode yang baik, termasuk menghindari code smells, seringkali bukan hal yang mudah. Terutama jika kita harus menuliskan suatu kode-kode baru sembari dikejar oleh waktu. Terlebih bila kode tersebut bukan untuk persoalan yang trivial bagi kita. Bagi saya, jika terpaksa menimbulkan "bau" maka segera pula dipakaikan "deodoran", alias CodeDeodorant. Deodoran ini seringnya berupa komentar dengan huruf kapital atau simbol-simbol yang menarik perhatian, atau memberi jarak vertikal dengan spasi (vertical whitespace)
Ulasan beserta contoh Code Smell, silahkan kunjungi http://c2.com/xp/CodeSmell.html

Monday, February 20, 2012

Kata yang paling banyak dikenal di seluruh dunia: OK

Ada fakta yang cukup menarik. Menurut kamus Miriam Webster (http://www.merriam-webster.com/dictionary/), kata yang paling banyak dikenal oleh manusia di seluruh dunia adalah Okay/OK.

Tahukah Anda bahwa OK adalah singkatan dari All Correct (dengan bunyi Oll Korrect). Lebih lanjut silahkan telusuri artikel/video di Miriam Webster Dictionary.

Selamat Tanpa Makanan Selama 2 Bulan di dalam Mobil Terkubur Salju

Jika Tuhan memang belum menghendaki ajal seseorang, maka selalu saja ada tata-cara alam yang bekerja sehingga seseorang tersebut selamat meskipun berada dalam kondisi yang "seharusnya" sudah menjemput ajalnya.

Kali ini seorang lelaki Swedia berumur 45 tahun, ditemukan selamat setelah terkubur bersama mobilnya, di dalam salju, selama 2 bulan tanpa makanan apapun. Secara ilmiah disebutkan bahwa dikarenakan suhu yg rendah, maka tubuh lelaki ini berhibernasi seperti yang biasanya dilakukan beruang di musim dingin.

 Untuk artikel selengkapnya, silahkan kunjungi http://gizmodo.com/5886507/how-a-man-survived-without-food-for-two-months-in-a-snow+buried-car

Cartoon by Scott Simmerman