Wednesday, March 25, 2009

Sekilas Earth Hour






Tiga hari lagi, tepatnya tanggal 28 Maret pukul 20:30 - 21.30 waktu lokal adalah Earth Hour. Pertama kali saya mengetahui tentang Earth Hour adalah melalui iklan di Discovery Channel. Berikut adalah kesimpulan tentang Earth Hour yang saya peroleh dari berbagai sumber di Internet, termasuk dari situs resmi Earth Hour di http://www.earthhour.org/





Earth Hour adalah kampanye perubahan iklim global. Individu, pelaku bisnis, pemerintah dari berbagai negara di semua belahan dunia akan mematikan/memadamkan lampu selama satu jam sebagai pernyataan dukungan upaya penanggulangan perubahan iklim.

Earth Hour pertama kali dilakukan di Sidney, Australia, pada tahun 2007 dengan mematikan penggunaan lampu selama satu jam. Sebanyak 2,2 juta orang, rumahan dan kantor mematikan lampu saat itu. Tahun berikutnya, 2008, hal ini menjadi semacam gerakan global dan diikuti sebanyak 50 juta orang. Tahun 2009 ini angka yang ditargetkan lebih tinggi lagi, yaitu 1 miliar orang.

Maksud kampanye ini adalah untuk menunjukkan bahwa aksi individu yang dilakukan secara global dapat mengubah bumi kita lebih baik.

Tahun 2009 ini Indonesia, khususnya Jakarta akan mendukung dan mengikuti gerakan Earth Hour. Mengapa Jakarta? Berdasarkan penuturan seorang rekan di milis GreenLifestyle, karena konsumsi listrik di Indonesia masih terkonsentrasi di Jawa. Pada 2007 mencapai sekitar 77% dari konsumsi nasional, dan sekitar 20% pengguna listrik di Indonesia berada di Jakarta, sedangkan untuk pasokan listrik di daerah lain di Indonesia masih berbagi dalam jumlah yang lebih kecil. Wew besar juga ya 77%, tapi tidak mengherankan tentunya karena di Jakarta lah tumpah ruah semua orang dalam mencari kerja :p.

Earth Hour bukanlah gerakan tanpa kontra. Beberapa pihak ada yang kurang setuju dengan gerakan ini, tapi bukan dalam artian menentang atau mengecam tujuan atau pesan yg ingin disampaikan oleh gerakan Earth Hour. Contohnya, Alain Camus di Facebook menilai bahwa apa yang dilakukan oleh gerakan Earth Hour justru akan menyia-nyiakan pasokan energi listrik yang sudah disiapkan. Hal ini dikarenakan pada saat gerakan Earth Hour dilaksanakan, tidak dibarengi dengan penurunan kapasitas produksi oleh pembangkit-pembangkit listrik. Sehingga sejumlah besar bahan bakar fosil tetap akan terpakai oleh pembangkit-pembangkit listrik tapi kemudian tidak digunakan, alias disia-siakan. Alain mengibaratkan membunuh seekor hewan tapi kemudian tidak mau memakannya. Alain juga mengingatkan bahwa jika kita hanya sekedar mematikan (switch off) perangkat listrik tapi perangkat tersebut masih terhubung ke sumber listrik (seperti tempat colokan listrik di dinding), maka sebenarnya tetap ada konsumsi listrik meski minimal. Jadi baiknya jika ingin benar-benar mematikan perangkat listrik, maka cabut (unplug) juga kabelnya dari sumber listrik.

Well, yang jelas gerakan Earth Hour ingin mengingatkan kepada kita untuk melakukan tindakan nyata untuk menyelamatkan bumi yang kita tinggali. Bagaimana apakah Anda juga akan mematikan semua lampu dan perangkat listrik selama satu jam pada hari Sabtu nanti? Jangan lupa siapkan lilin tentunya :) kecuali memang ingin bergelap gulita.

Di bawah ini adalah alat-alat kampanye Earth Hour yang disiapkan oleh Earth Hour Indonesia (http://www.earthhour.wwf.or.id/):

Individu
10 Hal Yang Bisa Anda Lakukan Ketika Lampu Padam [PDF]
10 Hal Yang Bisa Keluarga Lakukan Ketika Lampu padam [PDF]

Sekolah
10 Hal Yang Bisa Sekolah Anda Lakukan Ketika Lampu Padam [PDF]

Universitas
10 Hal Yang Bisa Anda Lakukan di Kampus Ketika Lampu Padam [PDF]

Korporasi
10 Hal Yang Bisa Dilakukan Perusahaan Dukung Earth Hour [PDF]

Happy Earth Hour...

Friday, February 20, 2009

Puisi Tuhan Sembilan Senti

Puisi karya Taufiq Ismail ini sudah cukup lama (mungkin sekitar tahun 2006). Namun mengingat kondisi masyarakat kita yang hingga saat ini belum ada perubahan (dan juga kesadaran akan buruknya) merokok, maka tentunya puisi ini tetap relevan.

Tuhan Sembilan Senti
Oleh Taufiq Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

Saturday, January 24, 2009

Potret seputar tragedi Israel - Palestina

Berikut foto-foto yang saya dapat dari berbagai sumber:

Seorang ibu dan kedua anaknya, tengah berlindung saat roket-roket hamas menerjang Israel. (Sumber: Kompas)


Mustafa, bocah lelaki berusia 5 tahun, Jumat (23/1), berjongkok di depan rumah orangtuanya di Bukit Jabaliya, Jabaliya Timur, Jalur Gaza, yang hancur dibom pesawat tempur Israel, F-16, pada 27 Desember 2008. Selama tiga minggu, pesawat tempur, helikopter, dan tank Israel memorakporandakan wilayah ini. (Sumber: Kompas)

Thursday, January 01, 2009

So many wishes, so little time

Sepertinya terlalu banyak hal yang ingin saya lakukan/capai secara paralel dan waktu terasa tidak begitu mencukupi. Baik yang sudah direncanakan maupun yang masih berupa angan-angan, semua ingin dikerjakan sekaligus, ingin dirasakan nikmatnya sekaligus ;p

Menyelesaikan software yg menjadi pekerjaan utama, ikut aktif dalam diskusi & kegiatan organisasi yg bersifat sosial, membagi ilmu dan pengalaman kepada para teman2x yg sementara kuliah maupun yang baru terjun di dunia IT, membaca buku2x dan novel2x yg sudah ada dalam antrian (yang semakin hari semakin bertambah antriannya), bermain game online, me-refine ulang produk2x software yang sudah dihasilkan, hingga berupaya mengumpulkan uang untuk bekal menjadi backpacker bersama teman2x (dalam melakukan penjelajahan dan bertualang). Fiuh... tapi waktu begitu terbatas dan manusia terpaksa membuat prioritas2x pada kegiatan yg bersifat tanggung jawab dan kesenangan.

Btw, happy new year 2009 for everyone :)

Friday, December 26, 2008

Sebuah seruan dari pendiri Wikipedia, Jimmy Wales

Sekedar berbagi link, silahkan diakses langsung di : Sebuah seruan dari pendiri Wikipedia, Jimmy Wales

Tuesday, December 09, 2008

Acara "pembacaan"

Tadi malam saya mengantarkan Ibu saya pergi berbelanja barang kebutuhan untuk acara "pembacaan" yang akan dilakukan oleh kakak saya yang sedang mengikuti pendidikan dokter spesialis di suatu universitas negeri di Makassar. Saya lihat ibu membeli sekitar 3 jenis barang tapi dalam kuantitas yang cukup banyak dan total belanjaan mencapai ratusan ribu. Di mobil dalam perjalanan pulang, saya berbincang-bincang dengan ibu saya, dan dari situ saya mengetahui bahwa barang yang dibeli tadi adalah untuk konsumsi 60 orang yang akan hadir dalam acara "pembacaan" kakak saya.

Saya lalu bertanya, apakah menyediakan konsumsi seperti ini adalah sesuatu kewajiban bagi mahasiswa? Mengingat ini bukan kali pertama kakak saya melakukan acara "pembacaan" dan saya juga sering mendengar dari orang-orang lain tentang acara "pembacaan" ini. Beberapa tahun lalu, kakak saya juga pernah melakukan "pembacaan" dan waktu itu ibu memesan beberapa puluh nasi dos dan juga menghabiskan biaya yang tidak sedikit (untuk ukuran kantong saya). Ibu saya lalu mengatakan bahwa sebenarnya hal ini bukanlah suatu kewajiban tapi sudah menjadi kebiasaan. Lebih lebih katanya, yang masuk jurusan kedokteran sudah pasti adalah orang2x yg "berkecukupan" dari segi ekonomi sehingga hal seperti ini dirasa tidak terlalu masalah. Hmm...

Sepengetahuan saya, konsumsi yang biasa disediakan untuk kegiatan "pembacaan" ini adalah konsumsi yang cukup berkelas (menurut ukuran saya), jadi bukan konsumsi ala kadarnya yang bisa kita temui di kantin-kantin kampus ataupun warung atau toko-toko kue biasa. Otomatis untuk menyediakan konsumsi yang agak berkelas itu, harus merogoh kocek yang tidak sedikit.

Saya lalu berpikir, bagaimana dengan mahasiswa yang tergolong pas-pasan ekonominya, tentu hal seperti ini sungguh menjadi beban baginya. Tapi kembali lagi saya teringat apa yang dikatakan ibu saya bahwa para mahasiswa yang masuk kedokteran, sudah pasti ekonominya sangat berkecukupan. Oke, saya terima kenyataan bahwa memang hal ini sudah menjadi kebiasaan yang turun temurun di lingkungan pendidikan tempat kakak saya. Tapi bagaimanapun sebagai lembaga pendidikan, harusnya pihak kampus bisa menyadari hal ini sejak dulu dan mulai mengurangi kebiasaan ini. Tidak boleh menggunakan alasan "sudah menjadi kebiasaan" ataupun alasan karena ekonomi para mahasiswa-nya berkecukupan, maka hal ini dibiarkan saja. Memang mungkin para mahasiswa tidak ada yang protes atau keberatan, tapi hal ini tidak mendidik, apalagi kondisi masyarakat kita yang masih banyak orang kelaparan dan kurang gizi. Lembaga pendidikan harusnya mampu mengajari dan memberi contoh kepada para didikannya, bukan hanya materi-materi akademik yang menjadi subjek/jurusan/konsentrasi para anak didik, tapi juga memberi contoh untuk perilaku dan akhlak yang baik serta kepedulian sosial. Contoh praktisnya untuk kasus "pembacaan" ini misalnya, dosen bisa menghimbau kepada para mahasiswa bahwa konsumsi tidak wajib disediakan, dan kalaupun ada yang mau menyediakan, silahkan yang ala-kadarnya saja, toh yang hendak diberi makan bukanlah orang kelaparan, maka jangan terlalu menghambur-hamburkan uang untuk menyediakan konsumsi, lebih baik berhemat saja, atau kalau ada uang lebih silahkan sumbangkan ke kampus guna keperluan penyelenggaraan pendidikan, atau membantu orang2x yang membutuhkan, atau teman2x mahasiswa lain yang lebih membutuhkan (mengingat masih banyak mahasiswa2x dari daerah yang setiap bulannya mendapat kiriman dana yang sangat pas-pasan). Hehe... saya cukup bersyukur karena selama masa kuliah saya berteman dengan banyak orang dari berbagai kalangan, melihat beragam sisi kehidupan yang berbeda-beda mulai dari teman2x kos yang sangat pas-pasan (kalau bukan kurang) ekonominya, hingga melihat anak2x orang kaya yang tinggal di apartemen mewah dan mengendarai mobil jaguar ketika pergi kuliah.


"Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan." Pramoedya A. Toer (Bumi Manusia; Jean Marais, hal 52)


PRT diduga disiksa polisi

Seminggu yang lalu saya membaca berita di harian Kompas (http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/12/02/01102378/diduga.mencuri.laptop.prt.dianiaya.polisi), tentang seorang perempuan pembantu rumah tangga (PRT), Nanik, di Makassar yang dilaporkan oleh majikannya ke Polisi karena diduga mencuri laptop dan telepon genggam milik majikannya. Di kantor polisi, sang PRT pun mendapat siksaan dari polisi agar mau mengakui tindakan pencurian yang dituduhkan kepadanya.

Berita penyiksaan seperti ini sebenarnya bukan hal baru di republik kita. Tapi kali ini saya singgung karena kebetulan terjadi di Makassar, yang menjadi tempat tinggal dan basis utama kerja saya saat ini. Saya cukup kaget dan hanya bisa mengurut dada membaca berita tersebut. "Hebat" sekali para polisi tersebut, bukannya menggunakan akal pikiran dan mengedepankan cara-cara pemeriksaan yang benar, tapi hanya mengandalkan otot.

Sepengetahuan saya, untuk menjadi seorang polisi seseorang harus cukup pintar secara akademis. Kalau saya tidak salah ingat, hal ini ditunjukkan dengan adanya syarat bagi para siswa lulusan SMU yang hendak melamar jadi polisi, maka siswa pelamar tersebut harus dari jurusan IPA. Dengan asumsi "pintar secara akademis" maka seharusnya lulusan kepolisian juga pintar dalam mengetahui tindakan atau akhlak mana yang benar dan mana yang salah. Tapi sepertinya kita lebih banyak mendengar tentang perilaku polisi yang sesukanya menyiksa "korban"-nya untuk mendapatkan pengakuan agar suatu kasus cepat selesai. Sepertinya "kepintaran" yang semula dimiliki oleh calon-calon polisi ini berangsur-angsur hilang setelah menjadi polisi. Hmm... apakah ada yang salah dengan cara mereka dididik menjadi polisi? Entahlah.

Kembali ke soal PRT tadi, bukannya mencoba membuktikan apakah si PRT memang betul mencuri laptop dan telepon genggam, polisi malah memaksa agar si PRT mau mengakui tuduhan yang ditimpahkan kepadanya:

"Sabtu sekitar pukul 01.00, penyidik memindahkan tempat pemeriksaan. ”Tiga orang berpakaian preman membawa saya ke ruangan lain. Tangan saya diborgol ke belakang dan wajah saya dikerudungi kain sarung. Saya kemudian disuruh berbaring di lantai, sementara hidung saya dipasangi selang. Selang itu selanjutnya dialiri air. Saya tersedak dan meminum banyak air. Dalam kondisi seperti itu, saya dipaksa mengaku mencuri. Pinggang kiri saya ditendang, kata Nanik.

Sekitar pukul 04.00 penyiksaan dihentikan. ”Saya lalu disuruh cap tiga jari di atas berkas polisi. Saya tidak tahu isinya karena saya tidak bisa membaca. Polisi juga tidak membacakan isinya,” kata ibu empat anak itu."

Polisi baru mau melepaskan Nanik setelah suaminya memohon kepada majikan Nanik untuk datang ke kantor polisi tempat Nanik ditahan. Luar biasa, kalau memang Nanik benar diduga keras terlibat pencurian, maka seharusnya polisi tetap menahannya dengan mengemukakan alasan-alasan yang rasional. Tapi dengan model seperti ini, tentu semakin menguatkan dugaan kita semua bahwa para polisi tersebut hanya bisa menyiksa Nanik guna memperoleh pengakuan tanpa memedulikan apakah cukup bukti untuk menyatakan Nanik bersalah atau tidak.

Menulis cerita ini saya jadi ingat suatu lelucon tentang BIN (Badan Intelijen Negara), TNI, dan Polri: Suatu ketika diadakan lomba untuk membandingkan kemampuan BIN, TNI, dan Polri dalam mengusut suatu kasus. Panitia lomba lantas melepaskan seekor tikus ke tengah hutan dan memberi tugas kepada ketiga kelompok tersebut untuk mencari tikus yang dilepas tadi. Yang pertama masuk hutan adalah BIN. Setelah beberapa jam di dalam hutan, personel BIN pun keluar dan mengatakan kepada panitia bahwa tidak ada tikus, hal itu hanyalah isu belaka dan tidak benar :D Berikutnya giliran TNI yang masuk ke hutan. Begitu masuk, TNI langsung memporak porandakan hutan, dan kemudian membakarnya hingga habis. Seluruh makhluk terpanggang di dalamnya. Mereka pun keluar dengan bangga dan mengatakan kepada panitia bahwa tikus sudah ditemukan, dan tentu saja dalam kondisi sudah menjadi bangkai ;p
Giliran terakhir adalah Polri. Beberapa anggota polisi pun diutus untuk masuk ke dalam hutan. Baru 5 menit masuk, tiba-tiba mereka sudah keluar. BIN, TNI, dan panitia lomba kaget bukan main sebab sangat cepat. Salah seorang dari polisi tersebut terlihat memegang seekor kelinci yang nampak ketakutan dan berteriak-teriak "ampun...! ampun.. ! saya mengaku... saya mengaku... saya tikus"
hihihi.... =p



"Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berpikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang memang berjiwa kriminil, biar pun dia sarjana." - Pramoedya A. Toer (Anak Semua Bangsa, 390)


My first C book

C Programming Guide C Programming Guide by Jack J. Purdum


My review


rating: 4 of 5 stars
Seingat saya ini adalah buku pemrograman bahasa C yang puaaling pertama saya baca, bahkan sebelum perkuliahan saya yg menggunakan bahasa C dimulai. Sekitar tahun 2000 saya membeli buku ini, di Makassar, dan penerbitnya (utk edisi Indonesia) adalah Erlangga.

Buku ini sangat bagus dalam menjelaskan bahasa C, terutama bagi pemula. Buku ini berbeda spt buku2x programming pada umumnya yg bahasannya hanya seputar syntax, deklarasi tipe data, struktur kontrol, dan contoh2x program yg basbang. Buku ini menjelaskan banyak konsep dan pengetahuan yg tersembunyi tentang bahasa C, yang mencerminkan sang penulis (DR. Jack Purdum) bukanlah seorang penulis buku programming dadakan, dan pengetahuannya akan dunia pemrograman saya acungi jempol.

Buku ini tidak terlalu tebal, tapi tidak juga tipis (spt buku pemrograman yg kurang gizi). Bagi para pencinta bahasa C, saya rasa mereka pasti menghargai isi dari buku ini. Sekarang saya belum pernah lagi menjumpai buku C ini di toko2x buku modern, mungkin karena sudah tidak diterbitkan lagi?

View all my reviews.

Sunday, November 30, 2008

Model Peran

Kembali postingan saya kali ini adalah hasil copas (copy & paste) dari harian Kompas (http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/11/30/0246079/model.peran) , tentang pandangan orang terhadap suatu penampilan. Happy reading :)

Model Peran
Samuel Mulya

Beberapa waktu lalu, saya merasa dilecehkan oleh seorang satpam di salah satu stasiun televisi nasional meski saya yakin petugas satpamnya tak bermaksud melecehkan saya. Mungkin dia tak mengerti, atau memang ia sudah memiliki standar yang dipercayai benar adanya.

Ceritanya begini. Suatu siang saya datang ke stasiun televisi itu. Saya mengenakan dalaman putih dipadu sweater tipis melekat pada tubuh dan celana berpotongan pipa yang menegaskan jenjang kaki saya yang aduhai itu, yang pernah sekali waktu memesona manusia yang tak seharusnya terpesona. Saya menghampiri meja penerima tamu dan memberi tahu saya memiliki janji temu dengan Bu A.

Dengan sigap ia memencet tombol telepon. Tetapi, selang sekian detik ia menutup telepon dan malah menyapa seorang bapak yang datang dan berdiri di belakang saya. Bapak ini berpenampilan sangat resmi, yaa… sangat bapak-bapak gitu deh. Mengenakan kemeja batik lengan panjang, perut buncit, dan rambut cepak. Saya juga tak tahu apakah itu penampilan standar, atau role model-nya demikian, agar bisa disebut bapak-bapak. Nurani saya sih bilang, yaaa… gitu deh.

Oh… batik, oh… setelan hitam

Si satpam langsung menyapa, ”Bisa saya bantu, Bapak?” Dan saya yakin Anda bisa menebak cerita selanjutnya. Si Bapak dilayani dengan pelayanan ala bos dan pembantu. Sementara saya cuma diam tak bisa berkutik dengan penampilan saya yang mungkin tidak memenuhi standar untuk dilayani ala big boss. Apalagi, badan saya itu kecil kurus. Pakai baju batik pun tak akan memberi pengaruh apa-apa. Manalagi perut saya seperti teve datar. Jadi, sama sekali tak mencerminkan gambaran bapak perut buncit yang akan mendapat fasilitas lebih. Malah saya tampak seperti anak SMA.

Setelah selesai mengurus Bapak buncit, si satpam kembali kepada saya dan berkata, ”Tadi mau ketemu siapa?”

Satu minggu setelah itu saya datang ke sebuah biro iklan yang menempati gedung pencakar langit yang dipenuhi manusia dari dunia perbankan. Jadi, Anda bisa membayangkan bagaimana mereka berpakaian. Tentunya sudah mirip seragam. Karena mungkin standarnya harus demikian, supaya ada wibawa, kelihatan bisa dipercaya, lebih gagah, dan sejuta alasan lain.

Saya menunggu lift, dan setelah terbuka, saya dihadang tiga bapak yang penampilannya seperti seragam itu. Mereka tinggi-besar, berkostum setelan serba hitam, dengan tatapan mata begitu tajam siap menerkam saya, seperti ikan hiu mau menangkap ikan mujair. Mungkin mereka bingung kok ada ”anak kecil” berkeliaran di gedung seperti ini dengan dandanan yang bisa jadi buat mereka, lebih cocok untuk acara piknik.

Harus saya akui, saya sempat keder, salah tingkah di tengah tiga manusia yang tampak resmi itu. Saya sampai berkata dalam hati, bisa enggak ya liftnya bergerak lebih cepat. Saya gerah di antara sebuah lingkungan yang bukan saya. Saya seperti terdakwa, padahal mungkin mereka tak berpikir seperti saya.

Jadi, setelah melalui dua kejadian itu saya sempat berpikir, apa saya perlu operasi untuk meninggikan badan, menghaluskan muka, membuncitkan perut, membesarkan otot biseps saya, dan rambut akan saya buat pendek seperti tentara. Jadi lebih ’terisi’ dan tidak kelihatan kopong.

Saya harus memenuhi kriteria itu, saya harus melihat pada peran model untuk dunia bapak-bapak itu kalau saya mau diperlakukan seperti kejadian di gedung stasiun televisi itu.

Oh… untung, oh… tidak untung

Minggu lalu saya menjadi pembicara di sebuah rumah batik di kota Semarang. Tema yang diberikan adalah ”Big, Bold and Beautiful”. Sementara saya skinny, slim and faaarrr from beautiful.

Yang membuat saya kaget setengah mati, ketika pembawa acara membuka kegiatan hari itu dengan mengatakan (intinya saja), ”Buat Ibu-ibu yang memiliki badan yang kurang beruntung, hari ini kami menghadirkan Bapak Samuel Kepret untuk memberi tip dan trik bagaimana tampil cantik dengan badan kurang beruntung itu.”

Waktu giliran saya berbicara, saya protes sedikit. Kurang beruntung? Apa ukurannya? Apakah ukurannya langsing sehingga mereka dianggap kurang beruntung? Sama seperti paradigma putih sama dengan cantik sehingga hitam tidak cantik? Mengapa si MC sampai berpikir badan besar itu kurang beruntung? Lha wong rumah batiknya saja bisa berpikir jeli sekali melihat kondisi tubuh demikian. Mereka bisa melihat badan yang menurut majalah mode tidak layak tampil di catwalk hanya pada keadaan tertentu atau kalau dibutuhkan, bisa menjadi salah satu sumber pemasukan.

Maka, ketika ada kesempatan tanya-jawab, nyaris pertanyaan hanya berkisar cara menutup ini dan menutup itu, mengurangi ini dan mengurangi itu. Dan seseorang bertanya, ”Kalau kulit saya hitam seperti ini, warna apa yang cocok?” Saya langsung menjawab, ”Semua cocok. Dan jangan lagi Anda mengatakan diri saya hitam.”

Apa salahnya menjadi hitam? Hanya karena ada model peran yang memaksa Anda jadi putih? Sejauh Anda bahagia, sejauh itu Anda cocok dan kalau Anda bahagia, Anda mau punya badan beruntung atau kurang beruntung itu tak jadi masalah. Karena, kalau Anda bahagia dalam penampilan, maka itu akan membahagiakan orang lain sehingga berpakaian pun menjadi sebuah ibadah. Bukan acara lomba, untuk memenuhi standar role model. Bukan juga berpakaian agar orang melayani Anda, meski nurani saya berkata, ”Dilayani itu lebih endang bo dari melayani.”

Samuel Mulia Penulis mode dan gaya hidup

Kilas Parodi

Bagaimana Caranya Supaya Beruntung?

1. Jalan paling mudah, mulai sekarang berpikir dan katakan Anda manusia beruntung.

2. Jangan pernah membandingkan! Anda bukan produk, bukan merek. Anda manusia, bukan benda mati. Itu yang harus dicamkan sebelum Anda tersinggung karena orang melakukan perbedaan terhadap Anda. Sama seperti menganggap orang miskin. Mengapa? Karena standar yang dipakai materi. Padahal kalau saya miskin, hari ini makan nasi saja, kemudian dapat jatah dari atas, dari meja orang maksudnya, sebuah potongan paha ayam berikut tulisan ”Ini original”, maka saya akan senang sekali. Dan hari itu saya merasa diri saya kaya. Jadi, ”miskin” pun kaya. Pusing? Coba jadi ”miskin”, pasti tak akan pusing.

3. Saya kasihan karena melihat seseorang miskin. Padahal, yang miskin sudah terbiasa miskin. Jadi, mereka sudah bisa dan mampu mengatasi hal mengasihani diri sendiri. Bukan seperti saya yang selalu merengek menangisi diri sendiri. Kurang inilah, kurang itulah. Memang saya harusnya belajar dari mereka yang saya katakan miskin itu, padahal bisa memberi pelajaran hidup kepada saya. Betapa kaya dan beruntungnya si ”miskin” dan betapa miskinnya si kaya (yang saya maksud kaya, bukan saya loh).

4. Kalau dulu saya jadi korban mode karena saya memercayai apa yang dikatakan majalah-majalah mode, maka sekarang, kalau putih adalah ”the it color”, kalau tas ini adalah ”the it bag”, pertanyaan yang saya ajukan kepada diri sendiri adalah apakah itu harus saya turuti?

Kalau model yang ditampilkan itu harus kurus, apa harus juga saya ikuti? Kalau ada krim tua, apa yaaa… saya juga harus ikuti sehingga lupa seharusnya saya mensyukuri bisa punya kerut karena tak semua orang beruntung memiliki kerutan itu.

Sayangnya, ada pendapat, kerutan hanya membuat seorang wanita tampak menuakan! Oleh karenanya, yang dimaksud awet muda adalah kulit seperti bayi dan mengurangi atau menghilangkan kerut. Padahal awet muda, buat saya bukan berakhir dengan mengurangi atau menghilangkan kerut.

Awet muda adalah satu momen saat Anda berani menerima dengan hati berbahagia sebuah keadaan menjadi tua dan berkerut. Jadi, yang awet adalah kebahagiaannya. Itu yang memampukan membuat seseorang kelihatan muda. (Samuel Mulia)